Mt Sumbing Bukan Untuk Ditaklukkan
Sumbing adalah salah satu gunung dijawa tengah yang memiliki tinggi 3371 mdpl. Butuh waktu sekitar 8-9 jam perjalanan dari base camp ke puncak, dengan spesifikasi waktu; dari base camp ke pos 1 sekitar 1 setengah jam, pos 1 menuju pos 2 kurang lebih 1 setengah jam, pos 2 ke pos 3 membutuhkan waktu sekitar 2 jam, sekedar saran, jika anda ingin melanjutkan perjalanan menuju puncak atau dibawah puncak seperti plestan, pasar watu, atau watu kotak, saya sarankan untuk membuat tenda diatas pos tiga dibawah plestan, disana anda akan merasa aman dari terjangan angin gunung dan dinginnya udara gunung ketika angin berhembus. Dan untuk melanjutkan dari pos 3 menuju watu kotak membutuhkan waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan. Dari watu kotak menuju puncak membutuhkan waktu 1 setengah jam perjalanan. Waktu perjalanan berdasarkan jejak perjalanan saya ketika mendaki gunung ini.
Perjalanan saya mulai dari kota tercinta, kira-kira membutuhkan waktu sekitar 4 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor sampai base camp gunung sumbing via Garung. Malam itu pukul 21.30 kami berangkat menuju Temanggung tepatnya di dukuh Garung desa Butuh kecamatan Kledung, kami berhenti di Semarang untuk melengkapi perlengkapan kami dan mengisi perut yang kosong, sekitar pukul 22.30., dan melanjutkan perjalan sekitar pukul 1.00. setibanya kami dikota Temanggung salah satu kendaraan dari teman kami mengalami masalah pada ban, sehingga kami memutuskan untuk mengoper sebagian barang kami untuk meringankan beban kendaraan teman kami tersebut. Pukul 03.30 pagi kami tiba di base camp Sumbing via Garung. Seperti kewajiban seorang muslim pada umumnya sebagian dari kami melakukan kewajiban beribadah terlebih dahulu sebelum melakukan pendakian.
Pagi yang cerah ketika kami memulai pendakian menaklukkan gunung Sumbing, tidak lupa kami melakukan pemanasan untuk menghindari kram pada kaki selama pendakian. Yak, pendakianpun kami mulai dengan perasaan penasaran dan pikiran yang menerka-nerka, apa yang akan kami dapati diatas, apakah pemandangan yang menakjubkan, apakah para srikandi pendaki yang cantik seperti bidadari, kami tidak tahu apa yang ada diatas sana. Yang kami tahu hanya berjalan menelusuri track bebatuan menembus desa yang berisikan senyum penduduk nan ramah. Selama itu pula salah satu teman kami melakukan tugasnya sebagai pemegang kamera, yaitu memotret perjalanan kami sebagai dokumentasi. Setelah melalui pedesaan kami disuguhi pemandangan kebun penduduk sekitar disebelah kanan kiri sepanjang sepanajng track menuju base camp, astaga! Betapa indahnya ketika saya menoleh kebelakang. Tampak gunung Sindoro nan megah tegak berdiri, memang gunung Sumbing dan Sindoro berdekatan letaknya, jika kita berkendara menuju arah Wonosobo maka Gunung Sumbing terlihat di sisi kiri kita dan Sindoro disisi kanan. Berhentilah kita sejenak untuk menikmati keagungan Tuhan, selang beberapa menit kami melanjutkan pendakian kami menuju pos 1, butuh waktu sekitar satu jam setengah kita akhirnya sampai dipos 1,
dipos 1 kami beristirahat dan sebagian mengambil tambahan persediaan air kami untuk berjaga-jaga, untuk dicatat; pendakian jalur lama gunung Sumbing via Garung tidak banyak terdapat sumber mata air, kami hanya menemukan sumber mata air dipos 1 dan setelah plang pasar watu. Disumber mata air pos 1 kami harus mengambilnya sedikit lebih jauh, dari pos 1 kami berjalan kearah kanan melewati belakang pos ojek lurus turun kebawah sekitar 100 meter dan menemukan sumber air berupa kucuran air yang sudah ditata sedemikian rupa oleh para pengurus jalur pendakian.
Setelah dirasa cukup kami kembali kepos 1 dan memutuskan untuk menlanjutkan pendakian, sekitar satu setengah jam kami mendaki tibalah kami dipos 2, dan memutuskan untuk mengisi perut yang sudah terasa kosong. Sangat disayangkan hujan turun mengiringi masakan kami yang sebagian belum matang, dibawah guyuran hujan kami menyantap hidangan khas ala pendaki, nasi yang sedikit kurang matang dengan lauk campuran kubis, tepung perasa, dan telor dicampur menjadi satu.
Hujan masih ingin menurunkan airnya dari gumpalan awan hitamnya, sedangkan kami harus terus melanjutkan pendakian kami. Akhirnya kami mengalah dengan alam, dan melanjutkan pendakian dengan mengenakan jas hujan, hujan semakin menjadi ketika kami sudah mulai putus asa, sayangnya jiwa pendaki tidak mudah untuk dipatahkan hanya dengan lebatnya hujan, dengan basahnya pakaian yang kami kenakan kami berjalan sedikit demi sedikit. Tibalah kami ditanjakan yang saya rasa tanjakan paling curam digunung Sumbing, seperti kata para pendaki lain, tanjakan ini disebut “Tanjakan Setan”, dengan kaki yang sudah berlumuran lumpur, sepatu yang berisikan kerikil dan air, kami menyusuri tanjakan ini dengan bantuan tali dan tangan-tangan peduli dari teman kami, mungkin waktu pendakian kami tersita banyak disini, membutuhkan 1 jam untuk menyusuri tanjakan ini dengan cuacs yang hujan lebat dan lumpur yang licin.
Dengan kata Alhamdulillah pada pukul 14.30 kami menyelesaikan tanjakan ini dan sampai dipos 3 pendakian, dipos 3 sebagian dari kami sudah merasa kedinginan, bahkan ada salah satu teman kami yang tampak pucat biru pada bibirnya. Kami memutuskan mendirikan tenda diatas pos 3 dengan kondisi tanah yang miring dan sempit untuk 2 tenda kami. Setelah tenda kami berdiri, sebagian dari kami mengganti pakaian yang basah karena hujan dan menghangatkan diri didalam tenda berselimutkan kantung tidur (sleeping bag) dan sebagian lagi menyiapkan makanan dan minuman, terutama kopi yang tidak ketinggalan konsistensinya dalam mendaki. Tak sadar kami tertidur cukup lama, pukul 03.45WIB memutuskan untuk summit ke puncak, menembus dinginnya udara dan gelapnya malam, selangkah demi selangkah dengan asa menyusuri jalur antara pos 3 dan pasar watu, sempat merasa bingung ketika sampai di plang pasar watu karena ketika menoleh ke kanan tidak ada jalur alias buntu dan ketika menoleh ke kiri yang ada hanya jalur yang mengarah turun, dengan yakin kami berjalan ke arah kiri menuruni jalur itu, terdengar suara gemercik air diantara bebatuan disebelah kanan track setelah melihat persediaan air kami minim untuk melanjutkan pendakian menuju puncak, kamipun minum tetes demi tetes air yang menetes dari bebatuan tersebut dan melanjutkan pendakian kami lagi. Sampai di watu kotak kami menemukan pendaki yang mendirikan tenda disana, Sepelas dari itu kami sudah kehabisan persediaan air dan puncak nampaknya masih jauh dari pandangan, kami dengan berat hati memutuskan untuk meminta sedikit air dari para pendaki yang mendirikan tenda di Watu kotak tersebut. Sekitar satu jam perjalan kami akhirnya sampai di puncak 3371 mdpl gunung Sumbing pada pukul 7.30 WIB menikmati matahari pagi diatas ketinggian 3371 mdpl dan secangkir kopi pemberian pendaki dari medan bernama Arif (medan) adalah hal yang tidak bisa dibayar dengan uang ataupun emas. kami hanya bisa terdiam menikmati suguhan ciptaan Sang MahaPencipta.

Rena perempuan berkewarganegaraan Bulgaria itu tampak lelah dengan candaan yang dipaksakan untuk menutupi rasa lelahnya, saya (ACA) bertemu dengannya di puncak dan mendengarkan percakapannya selama perjalanan menuruni puncak menuju pos 3 tempat tenda dan teman-teman saya berada, setelah berjalan menuruni track dari puncak selama 2 jam akhirnya senyum-senyum kecemasan teman saya terlihat, sembari menyodorkan segelas kopi, salah satu dari teman saya menyambut kedatangan saya. Dengan peluh yang turun deras bak hujan kemaren rena sibule datang untuk meminta air, “we spoiled out our water, do you have some?” dengan nada gurauan kami menjawabnya dengan bahasa kami yang notabennya rena sibule tidak mengetahui apa yang kami bicarakan. Saya menawarinya kopi untuk sekedar bergurau “wanna some coffee?” dan dia menjawab “oh no thanks, I just want some of your water, please.” Akhirnya salah satu dari teman saya memberinya sebotol air, awalnya dia menolak karena dia rasa terlalu banyak air yang kami beri, tetapi setelah kami menjelaskan kalau persediaan air ditenda kami masih banyak akhirnya diapun mengambilnya.
Sarapanpun sudah kami habisakan, tenda dan barang lainnya sudah masuk dan sudah terpacking rapi dalam carrier, maka dengan semangat kami menuruni Gunung Sumbing ini dengan pemikiran yang berbeda dari pertama kami mendaki naik. Bahwa Sumbing bukan untuk ditaklukkan, tetapi Sumbing hanya bisa didaki dan dijaga kelestariannya. Begitupun dengan gunung –gunung yang lain, bukan hanya gunung melainkan alam dijagat raya ini. Menaklukkan alam sama saja dengan menantangnya. Sekian catatan tentang pendakian gunung Sumbing, semoga sedikit saran dari saya bisa membantu dan apa yang ada dalam cerita ini bisa menghibur dan menjadi referensi bagi anda yang membacanya. Terimakasih untuk Tuhan Yang MahaEsa telah memberi saya kesempatan untuk bisa menulis cerita ini dan berbagi saran kepada para pendaki lain
Post by: ACA
galery Ada Disini
Perjalanan saya mulai dari kota tercinta, kira-kira membutuhkan waktu sekitar 4 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor sampai base camp gunung sumbing via Garung. Malam itu pukul 21.30 kami berangkat menuju Temanggung tepatnya di dukuh Garung desa Butuh kecamatan Kledung, kami berhenti di Semarang untuk melengkapi perlengkapan kami dan mengisi perut yang kosong, sekitar pukul 22.30., dan melanjutkan perjalan sekitar pukul 1.00. setibanya kami dikota Temanggung salah satu kendaraan dari teman kami mengalami masalah pada ban, sehingga kami memutuskan untuk mengoper sebagian barang kami untuk meringankan beban kendaraan teman kami tersebut. Pukul 03.30 pagi kami tiba di base camp Sumbing via Garung. Seperti kewajiban seorang muslim pada umumnya sebagian dari kami melakukan kewajiban beribadah terlebih dahulu sebelum melakukan pendakian.
Pagi yang cerah ketika kami memulai pendakian menaklukkan gunung Sumbing, tidak lupa kami melakukan pemanasan untuk menghindari kram pada kaki selama pendakian. Yak, pendakianpun kami mulai dengan perasaan penasaran dan pikiran yang menerka-nerka, apa yang akan kami dapati diatas, apakah pemandangan yang menakjubkan, apakah para srikandi pendaki yang cantik seperti bidadari, kami tidak tahu apa yang ada diatas sana. Yang kami tahu hanya berjalan menelusuri track bebatuan menembus desa yang berisikan senyum penduduk nan ramah. Selama itu pula salah satu teman kami melakukan tugasnya sebagai pemegang kamera, yaitu memotret perjalanan kami sebagai dokumentasi. Setelah melalui pedesaan kami disuguhi pemandangan kebun penduduk sekitar disebelah kanan kiri sepanjang sepanajng track menuju base camp, astaga! Betapa indahnya ketika saya menoleh kebelakang. Tampak gunung Sindoro nan megah tegak berdiri, memang gunung Sumbing dan Sindoro berdekatan letaknya, jika kita berkendara menuju arah Wonosobo maka Gunung Sumbing terlihat di sisi kiri kita dan Sindoro disisi kanan. Berhentilah kita sejenak untuk menikmati keagungan Tuhan, selang beberapa menit kami melanjutkan pendakian kami menuju pos 1, butuh waktu sekitar satu jam setengah kita akhirnya sampai dipos 1,
dipos 1 kami beristirahat dan sebagian mengambil tambahan persediaan air kami untuk berjaga-jaga, untuk dicatat; pendakian jalur lama gunung Sumbing via Garung tidak banyak terdapat sumber mata air, kami hanya menemukan sumber mata air dipos 1 dan setelah plang pasar watu. Disumber mata air pos 1 kami harus mengambilnya sedikit lebih jauh, dari pos 1 kami berjalan kearah kanan melewati belakang pos ojek lurus turun kebawah sekitar 100 meter dan menemukan sumber air berupa kucuran air yang sudah ditata sedemikian rupa oleh para pengurus jalur pendakian.
Setelah dirasa cukup kami kembali kepos 1 dan memutuskan untuk menlanjutkan pendakian, sekitar satu setengah jam kami mendaki tibalah kami dipos 2, dan memutuskan untuk mengisi perut yang sudah terasa kosong. Sangat disayangkan hujan turun mengiringi masakan kami yang sebagian belum matang, dibawah guyuran hujan kami menyantap hidangan khas ala pendaki, nasi yang sedikit kurang matang dengan lauk campuran kubis, tepung perasa, dan telor dicampur menjadi satu.
Hujan masih ingin menurunkan airnya dari gumpalan awan hitamnya, sedangkan kami harus terus melanjutkan pendakian kami. Akhirnya kami mengalah dengan alam, dan melanjutkan pendakian dengan mengenakan jas hujan, hujan semakin menjadi ketika kami sudah mulai putus asa, sayangnya jiwa pendaki tidak mudah untuk dipatahkan hanya dengan lebatnya hujan, dengan basahnya pakaian yang kami kenakan kami berjalan sedikit demi sedikit. Tibalah kami ditanjakan yang saya rasa tanjakan paling curam digunung Sumbing, seperti kata para pendaki lain, tanjakan ini disebut “Tanjakan Setan”, dengan kaki yang sudah berlumuran lumpur, sepatu yang berisikan kerikil dan air, kami menyusuri tanjakan ini dengan bantuan tali dan tangan-tangan peduli dari teman kami, mungkin waktu pendakian kami tersita banyak disini, membutuhkan 1 jam untuk menyusuri tanjakan ini dengan cuacs yang hujan lebat dan lumpur yang licin.
Dengan kata Alhamdulillah pada pukul 14.30 kami menyelesaikan tanjakan ini dan sampai dipos 3 pendakian, dipos 3 sebagian dari kami sudah merasa kedinginan, bahkan ada salah satu teman kami yang tampak pucat biru pada bibirnya. Kami memutuskan mendirikan tenda diatas pos 3 dengan kondisi tanah yang miring dan sempit untuk 2 tenda kami. Setelah tenda kami berdiri, sebagian dari kami mengganti pakaian yang basah karena hujan dan menghangatkan diri didalam tenda berselimutkan kantung tidur (sleeping bag) dan sebagian lagi menyiapkan makanan dan minuman, terutama kopi yang tidak ketinggalan konsistensinya dalam mendaki. Tak sadar kami tertidur cukup lama, pukul 03.45WIB memutuskan untuk summit ke puncak, menembus dinginnya udara dan gelapnya malam, selangkah demi selangkah dengan asa menyusuri jalur antara pos 3 dan pasar watu, sempat merasa bingung ketika sampai di plang pasar watu karena ketika menoleh ke kanan tidak ada jalur alias buntu dan ketika menoleh ke kiri yang ada hanya jalur yang mengarah turun, dengan yakin kami berjalan ke arah kiri menuruni jalur itu, terdengar suara gemercik air diantara bebatuan disebelah kanan track setelah melihat persediaan air kami minim untuk melanjutkan pendakian menuju puncak, kamipun minum tetes demi tetes air yang menetes dari bebatuan tersebut dan melanjutkan pendakian kami lagi. Sampai di watu kotak kami menemukan pendaki yang mendirikan tenda disana, Sepelas dari itu kami sudah kehabisan persediaan air dan puncak nampaknya masih jauh dari pandangan, kami dengan berat hati memutuskan untuk meminta sedikit air dari para pendaki yang mendirikan tenda di Watu kotak tersebut. Sekitar satu jam perjalan kami akhirnya sampai di puncak 3371 mdpl gunung Sumbing pada pukul 7.30 WIB menikmati matahari pagi diatas ketinggian 3371 mdpl dan secangkir kopi pemberian pendaki dari medan bernama Arif (medan) adalah hal yang tidak bisa dibayar dengan uang ataupun emas. kami hanya bisa terdiam menikmati suguhan ciptaan Sang MahaPencipta.

Rena perempuan berkewarganegaraan Bulgaria itu tampak lelah dengan candaan yang dipaksakan untuk menutupi rasa lelahnya, saya (ACA) bertemu dengannya di puncak dan mendengarkan percakapannya selama perjalanan menuruni puncak menuju pos 3 tempat tenda dan teman-teman saya berada, setelah berjalan menuruni track dari puncak selama 2 jam akhirnya senyum-senyum kecemasan teman saya terlihat, sembari menyodorkan segelas kopi, salah satu dari teman saya menyambut kedatangan saya. Dengan peluh yang turun deras bak hujan kemaren rena sibule datang untuk meminta air, “we spoiled out our water, do you have some?” dengan nada gurauan kami menjawabnya dengan bahasa kami yang notabennya rena sibule tidak mengetahui apa yang kami bicarakan. Saya menawarinya kopi untuk sekedar bergurau “wanna some coffee?” dan dia menjawab “oh no thanks, I just want some of your water, please.” Akhirnya salah satu dari teman saya memberinya sebotol air, awalnya dia menolak karena dia rasa terlalu banyak air yang kami beri, tetapi setelah kami menjelaskan kalau persediaan air ditenda kami masih banyak akhirnya diapun mengambilnya.
Sarapanpun sudah kami habisakan, tenda dan barang lainnya sudah masuk dan sudah terpacking rapi dalam carrier, maka dengan semangat kami menuruni Gunung Sumbing ini dengan pemikiran yang berbeda dari pertama kami mendaki naik. Bahwa Sumbing bukan untuk ditaklukkan, tetapi Sumbing hanya bisa didaki dan dijaga kelestariannya. Begitupun dengan gunung –gunung yang lain, bukan hanya gunung melainkan alam dijagat raya ini. Menaklukkan alam sama saja dengan menantangnya. Sekian catatan tentang pendakian gunung Sumbing, semoga sedikit saran dari saya bisa membantu dan apa yang ada dalam cerita ini bisa menghibur dan menjadi referensi bagi anda yang membacanya. Terimakasih untuk Tuhan Yang MahaEsa telah memberi saya kesempatan untuk bisa menulis cerita ini dan berbagi saran kepada para pendaki lain
Post by: ACA
galery Ada Disini



Comments
Post a Comment